Melanjutkan tulisan kemarin “Belajar dari Air“, saya teringat dengan kisah Nabi Musa.

Pasrah itu artinya mengalirkan bayi ke sungai Nil seperti yang dilakukan ibunda Musa dengan penuh percaya kepada Allah SWT. Percaya bahwa bayi suci itu akan selamat seperti jaminanNya.

Pertanyaannya, bagaimana kita bisa berlaku pasrah bila merasa tak pernah mendapatkan “jaminan” Tuhan bahwa ikhtiar kita akan berhasil?

Kelanjutan artikel ini hanya bisa dibaca oleh Member, silahkan login disini dulu atau Registrasi di sini

Inilah muara masalahnya, kita merasa tak pernah mendapatkan jaminan, atau setidaknya merasa tak pernah MENDENGAR jaminan Tuhan atas hidup kita.

Bahwa hutang kita akan lunas, bahwa usaha kita akan menghasilkan, bahwa penyakit kita akan sembuh, bahwa jodoh kita (bagi jomblo) akan datang, bahwa rizki kita akan dicukupkan.

Justru yang ada rasa tak percaya, sebab itu gelisah. Memikirkan setiap hari bagaimana kita bisa keluar dari masalah yang ada.

Sekali lagi, muaranya adalah tak mendengar atau mengetahui jaminan “bayi akan selamat” seperti mendengarnya ibunda Musa sehingga beliau yakin dan pasrah.

Mendengar ini bukanlah tentang telinga atau pendengaran, tapi mendengar adalah kemampuan menangkap inspirasi yang Tuhan berikan. Mendengar “bisikan” Tuhan ke dalam hati nurani.

Wadahnya adalah hati nurani. Seperti wadah nasi yang Anda pakai untuk makan, selalu bersih sebelum digunakan. Maka apakah hati nurani senantiasa terjaga sebab ia selalu digunakan?

Ketidakmampuan kita mendengar bisikan Tuhan adalah sebab hati nurani sudah kotor, sehingga sebaik apa pun makanan yang dihidangkan diatas piring, selama piringnya kotor, makanan menjadi kotor tak sebersih asal mulanya.

Ini menjelaskan kenapa seseorang selalu berburuk sangka saat ada nasehat orang lain, sebab memang hati nuraninya telah kotor tak mampu menangkap kebenaran.

Nasehat itu bisa saja berupa materi seorang pembicara di sebuah training pengembangan diri, orang yang hatinya kotor memilih bersikap apatis dan hatinya berkata, “Dia enak ngomong gitu karena dah kaya. Lha aku?”

Jadi perkaranya bukan seberapa banyak Anda ikut pelatihan, seberapa banyak Anda ikut channel telegram pengembangan diri, seberapa banyak Anda ikut group WA tentang menarik rizki, tapi seberapa mampu Anda menjaga kemurnian hati nurani.

Contohnya seseorang tahu bila salah itu mesti minta maaf, itu yang ada di hati nurani. Tapi saat dia salah kepada anaknya, ia memilih pura-pura benar atau memilih cuek karena gengsi. Ini mengotori hati nurani.

Seseorang paham bila mau menawarkan produk di group WA orang lain itu butuh etika, perlu sopan santun. Tapi dia memilih langsung posting tanpa izin admin, hati nuraninya merasa salah, tapi diabaikan. Ini mengotori hati nurani.

Maka bisnis tidak melulu tentang hukum pareto “yang penting kerja”, tapi tentang dilakukan sesuai hati nurani.

Kebenaran itu adalah hal yang menenangkan hati nurani, kesalahan adalah hal yang membuat hati gelisah.

Membiarkan hati gelisah dengan berbagai alasan pembenaran, adalah cara untuk mengotori hati nurani sehingga tak mampu mendengar “bisikan” dari Tuhan.

Maka saat ada ide yang muncul, seseorang bingung membedakan apakah ide ini baik atau buruk? Apakah ide ini solusi atau malah petaka? Apakah ide ini dari Tuhan atau dari syetan?

Saran saya, bertaubatlah kepadaNya dan perbaiki akhlak kepada sesama. Cek apakah ada kedzaliman Anda kepada orang terdekat? Segera perbaiki.

Mulailah membersihkan hati nurani agar mudah menguatkan tekad dengan kuat sebab sukses itu memerlukan kekuatan tekad dan syaratnya adalah (lagi-lagi) ketenangan hati.

Akhirnya, hidup Musa tak pernah diduga oleh ibundanya. Diambil istri Firaun dan diasuh dalam istana.

Ibunda Musa tak mengetahui skenario lengkapnya, kecuali sepotong “bisikan” alirkan Musa ke Sungai Nil. Ia lakukan dengan pasrah.

Semoga Anda paham dan mempraktekkannya, sebab besok kita sudah membahas metode AFIRMASI praktis.

Ingat, jangan lanjut ke materi lain bila materi sebelumnya belum dipraktekkan. Sampai bertemu besok!

Wallahu’alam

Depok, 17 Juni 2019

Ahmad Sofyan Hadi


1 Comment

yudi.koswara29 · July 1, 2019 at 9:20 pm

Mantap

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.