Sering, orang tua bersikap tegas (baca: galak) kepada anak-anaknya sebab orang tua tersebut juga diperlakukan tegas sewaktu kecilnya, oleh orang tuanya lagi.

Lalu anak-anak yang diperlakukan tegas ini, tumbuh menjadi sosok yang tegas juga, bersikap tegas kepada anak-anaknya lagi.

Saya melihat tanda tangan seorang gadis usia 20 tahunan yang menjadi korban ketegasan orang tuanya, “apakah kamu memendam rasa marah kepada ayah?”

Kelanjutan artikel ini hanya bisa dibaca oleh Member, silahkan login disini dulu atau Registrasi di sini

Dia mengangguk.

“Apakah kamu sering menjumpai sosok atasan yang menyebalkan, otoriter, serta berkuasa?”

Iya pun mengangguk. Sepanjang karirnya di perusahaan, katanya, ada saja atasan yang tidak dia sukai karena sikap otoriternya.

Lalu saya melanjutkan, “apakah kamu sering gagal menjalin hubungan sebab sosok pria-nya adalah orang yang tegas?”

Dia mengangguk kuat dan mengalirlah banyak cerita tentang pria-pria yang akhirnya dia jauhi karena memiliki sifat yang dia benci itu.

Inilah yang disebut AFIRMASI NEGATIF. Memendam kebencian artinya terus memikirkan hal yang dibenci, justru menarik realitas itu.

Ia membenci perilaku tegas ayahnya, justru menarik sosok yang tegas baik di pekerjaan dalam sosok atasan, maupun pria yang mendekatinya.

Memendam kebencian menarik hal yang dibenci.

Sekarang mari kita tinjau, siapa yang menciptakan kebencian itu? Orang tua melalui sikapnya yang tegas.

Lalu orang tua mendapatkan dari mana? Tentu dari orang tuanya lagi, demikian seterusnya.

Untungnya anak gadis ini baik, paham agama, jadi tidak sampai “mencari kebahagiaan” ke hal negatif.

Ada kasus yang saya temui, saking memendam marah kepada sosok ayah, seorang anak mencari pelarian ke hal negatif.

Kalau sudah begitu, siapa yang berdosa? Daripada bertanya demikian, lebih baik kita putus siklus dosa ini, setuju?

Saya menyarankan setiap orang yang mau menikah, mestinya diterapi terlebih dahulu agar melepas semua emosi negatif yang dipendam, agar tidak menjadi program afirmasi negatif.

Berapa sih biaya terapi? Semahal-mahalnya tidak lebih mahal dari sewa gedung dan bayar catering pernikahan.

Tapi tanpa terapi trauma atau emosi negatif, sudah banyak kasus kenangan indah hari pernikahan hanya bertahan beberapa tahun.

Selebihnya merana karena merasa pasangan KDRT, pasangan selingkuh, pasangan nikah lagi, pasangan kurang perhatian, atau keluhan lain yang sebenarnya bermuara dari diri sendiri.

Salah pilih itu gak enak, tapi banyak yang tak sadar bahwa muaranya emosi negatif.

Untuk para orang tua, ayolah berubah. Perbaiki kesalahan dengan melakukan terapi diri sendiri dan anak-anaknya.

Memperbaiki selalu lebih baik daripada tidak sama sekali, lagi pula mumpung masih ada umur.

Kalau sudah dikubur, tinggal siksa yang dihadapi hingga kiamat kelak. Bukankah seseorang yang beramal buruk lalu amal buruknya ditiru banyak orang, dia menanggung dosa semua yang mengikuti?

Wallahu’alam

Ahmad Sofyan Hadi


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.