Terlepas masalah jodoh yang memang sudah digariskan oleh Tuhan, saya menganjurkan agar merencanakan dengan baik dan penuh perhitungan matang.

Sebab salah makan saja bisa menimbulkan penyakit setidaknya sakit perut, apalagi salah pilih pasangan, sakitnya tak bisa diceritakan.

Kelanjutan artikel ini hanya bisa dibaca oleh Member, silahkan login disini dulu atau Registrasi di sini

Maka saat ada peserta channel Telegram Kelas Afirmasi Online yang minta pendapat saya terkait rencana pernikahannya, saya meminta tanda tangan dia dan calon suaminya.

Gadis ini berusia 20 tahun dan calon suaminya berusia 40 tahun. Stop, saya tidak ingin membahas tentang usia, tapi motivasi si gadis dalam menikah.

Kenapa dia mau menikah sekarang?
Kenapa dia mau dinikahi lelaki yang hampir seusia ayahnya?

Saya tak perlu bertanya, cukup melihat tanda tangannya dan jawaban itu sudah ketemu.

Gadis ini merasa, sekali lagi merasa, sering disalahkan oleh ibunya bahkan sejak kecil hingga hari ini.

Tak ada benarnya apa pun tindakan dia, selalu salah di mata ibunya dan ia ingin segera pergi dari rumah daripada terus emosi menerima perlakuan tersebut.

Maka saat ada lelaki yang mau menikahinya, ia tak melihat lelaki itu, tapi melihat dirinya. Sebuah kesempatan untuk pergi jauh dari rumah.

Motivasi menikah dengan lelaki itu versus pergi dari rumah, jauh lebih besar motivasi ingin pergi dari rumah. Maka dia abaikan usia calon suami yang terpaut jauh.

Bagi saya, masih mending pergi untuk dinikahi, masih jauh lebih terhormat. Sebab ada kasus gadis-gadis lain rela pergi dengan lelaki yang baru dikenal di media sosial, tanpa ikatan apa pun, semata-mata menghindari “prahara” di .
rumah.

Seorang guru sampai bercerita ke saya, “kok bisa ya gadis itu lengket dengan cowoknya padahal secara muka, maaf, bumi langit.” Dia menceritakan murid perempuannya.

Menyelamatkan diri.

Inilah motivasi terbesar kupu-kupu untuk terbang dan hinggap di batang-batang pohon yang dianggapnya “lebih baik” dari sarang yang membesarkannya.

Tak sadar bila batang pohon itu mengeluarkan getah yang amat lengket dan bau.

Jadi saya sering menemukan mereka terjebak. Baik terjebak pada pergaulan bebas, maupun terjebak pada pernikahan yang tak diinginkan.

Saya kembali ke gadis tadi dan menyarankannya untuk melakukan terapi yang pernah saya jelaskan di audio channel telegram.

Kita tidak bisa menghakimi orang tua dan menuntut mereka memperbaiki diri, tapi kita bisa mengubah respon, dimulai dengan membersihkan hati sendiri.

Diam-diam, saya berdoa semoga semakin banyak orang tua yang mau belajar cara menganalisa tanda tangan, agar bisa paham apa yang terjadi pada anaknya. Sebab bagi anak, salah asuh bisa sesat di masa depan.

Menyelamatkan masa depan anak, butuh ilmu bukan?

Wallahua’lam.

Ahmad Sofyan Hadi


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.